Dari Meja Dekan

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK UNIVERSITAS NUSA CENDANA AKAN MENERIMA MAHASISWA BARU PADA PROGRAM STUDI TEKNIK PEMBUATAN TENUN IKAT MULAI TAHUN AJARAN 2018/2019

 

Tenunan yang dikembangkan oleh setiap suku/ etnis di Nusa Tenggara Timur merupakan seni kerajinan tangan turun-temurun yang diajarkan kepada anak cucu demi kelestarian seni tenun tersebut. Motif tenunan yang dipakai seseorang akan dikenal atau sebagai ciri khas dari suku atau pulau mana orang itu berasal, setiap orang akan senang dan bangga mengenakan tenunan asal sukunya.

Pada suku atau daerah tertentu, corak/motif binatang atau orang-orang lebih banyak ditonjolkan seperti Kabupaten Sumba Timur dengan corak motif kuda, rusa, udang, naga, singa, orang-orangan, pohon tengkorak dan lain-lain, sedangkan Kabupaten Timor Tengah Selatan banyak menonjolkan corak motif burung, cecak, buaya dan motif kaif. Bagi daerah-daerah lain corak motif bunga-bunga atau daun-daun lebih ditonjolkan sedangkan corak motif binatang hanya sebagai pemanisnya saja.

Kain tenun atau tekstil tradisional dari Provinsi Nusa Tenggara Timur secara adat dan budaya memiliki banyak fungsi seperti :1). Sebagai busana sehari-hari untuk melindungi dan menutupi tubuh, 2). Sebagai busana yang dipakai dalam tari-tarian pada pesta/upacara adat, 3). Sebagai alat penghargaan dan pemberian perkawinan (mas kawin), 4). Sebagai alat penghargaan dan pemberian dalam acara kematian, 5).Fungsi hukum adat sebagai denda adat untuk mengembalikan keseimbangan sosial yang terganggu, 6). Aspek ekonomi sebagai alat tukar, 7). Sebagai prestise dalam strata sosial masyarakat, 8). Sebagai mitos, lambang suku yang diagungkan karena menurut corak/desain tertentuakan melindungi mereka dari gangguan alam, bencana,

roh jahat dan lain-lain, 9). Sebagai alat penghargaan kepada tamu yang datang (natoni), 10). Serta sebagai asesoris lainnya baik sebagai pelengkap fashion maupun untuk asesoris interior.

Dalam kehidupan masyarakat tradisional Nusa Tenggara Timur tenunan merupakan harta milik keluarga yang bernilai seni tinggi karena kerajinan tangan ini sulit dibuat oleh karena dalam proses pembuatannya atau penuangan motif tenunan hanya berdasarkan imajinasi penenun sehingga dari segi ekonomi memiliki harga yang cukup mahal. Tenunan sangat bernilai dipandang dari nilai simbolis yang terkandung didalamnya, termasuk arti dari ragam hias yang ada karena ragam hias tertentu yang terdapat pada tenunan memiliki nilai spiritual dan mistik menurut adat.

Di dunia Internasional, tenun ikat Nusa Tenggara Timur khususnya para penenun tradisional dari Kecamatan Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara pernah meraih Penghargaan Pangeran Claus (Prince Claus Award) dari Pemerintah Belanda tahun 2004. Potensi yang dimiliki Propinsi Nusa Tenggara Timur khususnya melalui Tenun Ikat perlu dijaga dan dikembangkan disamping sebagai aset budaya juga dapat menjadi komoditas ekonomi yang tentunya dapat meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi masyarakatnya. Disisi lain ketersediaan tenaga kerja yang terampil untuk bisa mengembangkan diri dengan berwiraswasta ataupun sebagai tenaga kerja pada dunia industri sangat minim. Oleh karenanya peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu mendapat perhatian, apalagi di era persaingan bebas yang sudah sedang berlangsung saat ini. Karena itu perlu disiapkan tenaga kerja Indonesia khususnya Nusa Tenggara Timur yang mampu berkompetisi dengan tenaga kerja lokal, regional maupun asing, yang siap dengan pengetahuan dan kemampuan yang berbasis pada kerangka kualifikasi serta mampu bertindak sebagai wirausahawan. Dengan melihat peluang dan tantangan tersebut, maka perlu adanya sebuah wadah yang mampu menghasilkan tenaga terampil yang mampu menjaga keberlanjutan kebudayaan Tenun Ikat serta mampu berinovasi untuk mengembangkan Tenun Ikat agar dapat menjadi komoditas ekonomi yang mampu bersaing dengan komoditas lain sejenis dalam era yang sangat dinamis saat ini.

Melihat peluang tersebut, Universitas Nusa Cendana Kupang akan menyelenggarakan Program Studi D3 Teknik Pembuatan Tenun Ikat yang tentunya dengan menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang ada di Nusa Tenggara Timur yang peduli terhadap keberlangsungan tenun ikat dan adanya upaya menjadikannya sebagai komoditas yang potensial untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat NTT.

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi telah memberikan ijin penyelenggaraan Program Studi Teknik Pembuatan Tenun Ikat, dengan Nomor: 273/KPT/I/2017 tanggal 22 Mei 2017, sehingga pada Tahun Ajaran 2018/2019, Undana akan menerima mahasiswa baru pada Program Studi Teknik Pembuatan Tenun Ikat tersebut.

Menyadari besarnya tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Program Studi D3 Teknik Pembuatan Tenun Ikat akibat keunikannya dan belum adanya referensi yang bisa dijadikan pembanding, Universitas Nusa Cendana Kupang sebagai penyelenggara perlu secara terus menerus meningkatkan diri untuk dapat memberikan layanan pendidikan yang terbaik bagi mahasiswa Program Studi D3 Teknik Pembuatan Tenun Ikat.

 

FST-Undana 2018

 

Bagikan artikel di

FacebookLinkedinTwitter