Undana Lepas 869 Wisudawan, Rektor Paparkan Tantangan Perubahan Iklim

Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali melepas 869 wisudawan/ti pada wisuda doktor, magister, profesi dan sarjana periode Juni 2021. Acara wisuda yang digelar hybrid (daring dan luring) tersebut dipimpin Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D di Auditorium Undana, Senin (28/6/2021).

Hadir secara onsite, Wakil Rektor (Warek) Bidang Akademik Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M. Sc, Warek Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Ir. Jalaludin, M. Si, Warek Bidang Kemahasiswaan Dr. Siprianus Suban Garak, M.Sc, Warek Bidang Kerjasama dan Alumni, Ir. I Wayan Mudita, M. Si., Ph. D, Kepala Biro Administrasi, Akademik, Perencanaan dan Sistim Informasi (BAAKPSI) Drs. Jimmy Benu, M. Si dan Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) Dra. Karolina Koriwati Sangkala, serta wisudawan dari masing-masing fakultas dan Program Pascasarjana (PPs) yang diwakili lulusan terbaik. Sementara sejumlah anggota senat Undana mengikuti acara wisuda secara daring melalui zoom meeting.

Dalam pidatonya berjudul Memasuki Masa Depan yang Kita Inginkan, Rektor Prof. Fred menyebut, pelaksanaan wisuda periode Juni setiap tahunnya bertepatan dengan perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang diperingati pada setiap 5 Juni. Salah satu tantangan utama dari 15 tantangan yang dihadapi manusia pada era milenial ini, ungkap Prof. Fred, sebagaimana menurut The Millenium Project, sebuah lembaga think tank global yang didirikan pada 1996 di American Council for the United Nations University, adalah bagaimana mencapai pembangunan berkelanjutan dan mengatasi perubahan iklim global.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, dasawarsa termutakhir ini merupakan dasawarsa terpanas dalam sejarah. Ini terjadi karena selama dasawarsa ini terjadi emisi karbon sebanyak 9 milyar ton dan yang berhasil diserap oleh alam hanyalah sebanyak 5 milyar ton, sehingga menambahkan sebesar 4 milyar ton ke atmosfer terhadap jumlah karbon yang sudah terakumulasi sebelumnya,” papar Prof. Fred.

Warek I Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc ketika menyerahkan ijazah kepada salah satu wisudawati terbaik pada wisuda periode Juni di Auditorium Undana, Senin (28/6/2021).

Jumlah karbon di atmosfer, sebut Rektor Undana, menyebabkan pemanasan global, perubahan arus laut, pengurangan lapisan ozon, dan berbagai perubahan global lainnya yang secara keseluruhan dikenal sebagai perubahan iklim (climate change).

“Mengapa jumlah karbon di atmosfer terus bertambah? Bukankah hampir semua Negara sudah menandatangani Protokol Kyoto sebagai komitmen bersama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca?” tanya Ketua Senat Undana ini.

“Meskipun sebagai negara, sudah menandatangani Protokol Kyoto, tetapi sebagai bangsa, golongan, atau keluarga harus berjuang mencari celah untuk meningkatkan kesejahteraan masing-masing. Atas nama meningkatkan kesejahteraan maka kita selalu mencari keuntungan finansial yang lebih besar. Untuk memperoleh keuntungan lebih itulah maka kita terus saja menambang minyak bumi, gas alam, dan batubara, padahal kita sudah mampu menciptakan teknologi alternatifnya,” papar Prof. Fred menambahkan.

“Meskipun sebagai negara, sudah menandatangani Protokol Kyoto, tetapi sebagai bangsa, golongan, atau keluarga harus berjuang mencari celah untuk meningkatkan kesejahteraan masing-masing. Atas nama meningkatkan kesejahteraan maka kita selalu mencari keuntungan finansial yang lebih besar. Untuk memperoleh keuntungan lebih itulah maka kita terus saja menambang minyak bumi, gas alam, dan batubara, padahal kita sudah mampu menciptakan teknologi alternatifnya,” papar Prof. Fred menambahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *